KATEGORI ARTIKEL
PENCARIAN ARTIKEL
CARI
Minggu 13 September 2014 09:39:45
by MelindaCare, via Artikel Penyakit

Penyakit skoliosis itu apa?

Tulang belakang setiap orang memiliki lengkungan alami. Lengkungan ini ada diantara bahu kita dan membuat punggung kita melekuk agak kedalam. Namun, beberapa orang memiliki tulang belakang yang melengkung ke sisi kiri kanan. Tidak seperti postur tubuh yang buruk, lengkungan ini tidak dapat diperbaiki hanya dengan membiasakan untuk berdiri tegak.

Kondisi melengkungnya tulang belakang pada sisi kiri /kanan disebut penyakit skoliosis. Pada pemeriksaan X-ray, tulang belakang pada orang dengan skoliosis terlihat seperti huruf “S” atau “C” daripada garis lurus. Beberapa tulang pada tulang belakang yang mengalami skoliosis juga mengalami sedikit rotasi, sehingga pinggang atau bahu orang tersebut terlihat tidak seimbang.

Siapa yang mengalami penyakit skoliosis ?

Penyakit skoliosis mengenai sekitar 2% dari populasi. Namun skoliosis dapat terjadi pada satu keluarga. Bila seseorang di satu keluarga mengalami skoliosis, kemungkinan mendapatkan terjadinya skoliosis lebih besar, sekitar 20%. Bila seseorang diantara keluargamu mengalami masalah lengkungan tulang belakang, maka kamu harus dilakukan pemeriksaaan skoliosis.

1. Anak anak

Sebagian besar penyakit skoliosis merupakan “idiopatik” yang berarti penyebabnya tidak diketahui. Biasanya terjadi pada anak-anak usia pertengahan atau akhir, sebelum mas pubertas, lebih sering pada anak perempuan dibandingkan laki-laki. Meskipun skoliosis sering terjadi pada anak-anak dengan cerebral palsy (gangguan otak), muscular dystrophy (gangguan otot), spina bifida, dan kondisi lainnya, sebagian besar skoliosis terjadi pada anak-anak yang sehat

2. Dewasa

Penyakit skoliosis biasaya terjadi pada anak-anak, namun dapat juga terjadi pada orang dewasa. Skoliosis pada orang dewasa dapat merupakan perburukan kondisi yang awalnya terjadi saat anak-anak, yang tidak terdiagnosa atau ditangani saat orang tersebut sedang bertumbuh. Apa yang awalnya merupakan lekukan ringan atau sedang, menjadi berkembang lebih berat dengan tidak adanya penanganan.

Skoliosis pada orang dewasa, dapat juga terjadi dengan adanya proses degeneratif pada tulang belakang. Kelainan tulang punggung lain seperti kifosis atau punggung yang membulat, berhubungan dengan osteoporosis yang terjadi pada usia lanjut. Semakin menuanya seseorang, kejadian terjadinya skoliosis dan kifosis akan meningkat.

Bila terjadi perkembangan yang lebih lanjut, skoliosis yang parah pada orang dewasa dapat menyebabkan nyeri yang hebat, deformitas dan kesulitan bernafas.

Pentingnya deteksi dini (saran untuk orangtua)

Penyakit skoliosis tidak dapat dicegah, namun deteksi dan penanganan saat masa pertumbuhan, merupakan cara yang paling baik untuk mencegah masalah yang sudah ada sehingga tidak memburuk.

Skoliosis idiopatik dapat berlangsung tanpa terdeteksi pada anak-anak karena biasanya tidak terasa nyeri pada masa-masa awal terbentuknya penyakit. Jadi orang tua harus memperhatikan tanda-tanda awal dari skoliosis ketika anak-anak mereka berumur sekitar 8 tahun.

  • Bahu yang tidak sejajar

  • Adanya benjolan pada tulang belakang

  • Pinggang yang tidak sejajar

  • Pinggul yang terangkat

  • Miring ke satu sisi

Jika terdapat salah satu tanda tersebut, diperlukan pemeriksan oleh dokter keluarga/umum, dokter orthopaedi. Beberapa sekolah juga melaksanakan screening skoliosis. Meskipun hanya dokter yang dapat secara akurat mendiagnosis skoliosis, screening di sekolah dapat membantu memperingatkan orang tua akan tanda-tanda skoliosis pada anaknya.

Tatalaksana

Dalam merencanakan tatalaksana untuk masing-masing anak, dokter orthopaedi akan mempertimbangkan beberapa faktor, seperti riwayat skoliosis pada keluarga, usia timbulnya lengkungan, lokasi lengkungan, dan keparahan lengkungan.

Sebagian besar lengkungan tulang belakang pada anak anak akan tetap kecil dan hanya perlu dilakukan pemantauan oleh dokter orthopaedi untuk melihat tanda-tanda perkembangan. Jika terdapat perkembangan dari lengkungan tersebut, dapat digunakan korset/brace orthopaedi untuk mencegah perburukan lebih lanjut. Anak-anak yang sedang mendapat terapi dengan menggunakan korset/brace orthopaedi, dapat tetap berpartisipasi dalam kegiatan fisik dan kegiatan sosial secara normal.

Stimulasi otot dengan elektrik, program latihan, ciropraktik dan manipulasi sampai saat ini belum terbukti efektif untuk menangani skoliosis.

Bila lekukan skoliosis sudah dalam keadaan buruk ketika pertama kali ditemui, atau terapi dengan menggunakan korset/brace tidak dapat mengontrol lengkungan, maka diperlukan tindakan operatif. Pada kasus ini, operasi merupakan pilihan yang sangat efektif dan aman.

Kesimpulan

Sudah tahu kan penyakit skoliosis itu apa? Penyakit skoliosis merupakan masalah yang umum terjadi yang biasanya hanya memerlukan pemantauan dengan pemeriksaan yang berkala semasa pertumbuhan. Deteksi dini merupakan hal yang penting, untuk memastikan lengkungan tersebut tidak berkembang. Hanya pada sebagian kecil kasus diperlukan tindakan medis, kemajuan pada teknik orthopaedi membuat skoliosis menjadi kasus yang sangat mungkin ditangani. Dokter Orthopaedi, spesialis pada penyakit otot dan tulang, merupakan kelompok dokter yang sangat mengetahui dan berkualifikasi untuk mendiagnosa, memantau dan melakukan terapi pada kondisi skoliosis ini.

Oleh: Dr. Ahmad Ramdan, SpOT(K), MKM,MM

 

Informasi Lebih Lanjut, dapat menghubungi:

Tim Pusat Bedah Tulang Belakang

Rumah Sakit Bedah Melinda 2

1. Dr. Ahmad Ramdan, SpOT(K), MKM,MM

2. Dr. Bambang Tiksnadi, SpB, SpOT(K), MM

Komentar Artikel Penyakit Skoliosis Itu Apa?
Leave A Reply
name
email address
website
message
captcha Ganti Kode Captcha  
   
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA ARTIKEL DI BAWAH INI