PENCARIAN ARTIKEL
CARI

Semakin tingginya korban akibat minuman keras (miras) oplosan menjadi tujuan utama diselenggarakannya “Master Class Up Date on Methanol Poisoning” oleh Tim Penanggulangan Kesehatan Jiwa Masyarakat. Acara yang digelar pada Sabtu (28/4) di aula RS Melinda 2 ini merupakan hasil kerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) Bandung dan Departemen Psikiatri FK Unpad.

Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dokter dan tenaga kesehatan lainnya dalam mendiagnosis dan mengobati pasien keracunan methanol, zat kimia yang ada dalam miras oplosan.

Ketua PDSKJI Bandung, Arlisa Wulandari, mengatakan bahwa para dokter akan dibekali materi mulai dari alasan orang meminum minuman keras, aspek farmakologi methanol, keluhan dan gejala, penatalaksanaan darurat keracunan methanol hingga penatalaksanaan setelah masa darurat.

Seminar ini pun mengundang para dokter di RSUD dan Puskesmas karena mereka perlu dibekalipengetahuan dan keterampilan dalam menegakkan diagnosa dan terapi keracunan miras oplosan secara tepat dan cepat. Mengingat korban keracunan miras pertama kali akan dibawa ke puskesmas dan RSUD.

Angka kematian akibat miras oplosan ini kini meningkat lebih dari 50% dan dilatarbelakangi oleh mudah dan murahnya harga miras oplosan. Hal ini tentunya membuat remaja bisa dengan mudah membelinya. Selain harganya yang murah, menurut Teddy Hidayat, dr.,Sp.KJ(K) , keingintahuan, coba-coba dan rasa ingin tahu menjadi faktor remaja yang ingin dianggap dewasa. Faktor budaya dan lingkungan juga bisa berperan besar dalam meningkatkan pengonsumsi miras oplosan ini.

Diharapkan dengan kehadiran “Master Class Up Date on Methanol Poisoning” ini bisa membantu para dokter untuk menangani korban keracunan miras oplosan dan tentunya menekan angka kematiannya.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA ARTIKEL DI BAWAH INI