PENCARIAN ARTIKEL
CARI

Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI) menggelar kegiatan edukasi mengenai Disleksia dalam agenda besar simposium internasional yang bertajuk 'Dyslexia in teenagers and adulthood, co-morbidities and coping strategi' di RS Melinda 2, Jalan Dr. Cipto, Kota Bandung, Minggu (21/1/2018). Kegiatan ini juga untuk memperingati Ulang Tahun ke-8 ADI.

Dalam kegiatan yang melibatkan para dokter spesialis anak, lembaga pendidikan, serta komunitas orangtua penyandang Disleksia tersebut, menjelaskan tentang apa itu Disleksia, bagaimana ciri gejalanya, hingga penanganan yang tepat kepada penyandang Disleksia agar dapat hidup normal seperti orang lain pada umumnya.

Pembina Asosiasi Disleksia Indonesia, Dr Purboyo Solek, Sp.A mengatakan, Disleksia merupakan kondisi berbasis neurodevelopmental disorder, yang ditandai dengan kesulitan berbahasa, baik lisan, tulisan, dan bahasa sosial pada individu yang mempunyai tingkat kecerdasan rata-rata, bahkan tidak sedikit yang diatas rata-rata.

Sejak awal kehidupan, para orang tua sebenarnya sudah bisa mendeteksi atau mencurigasi adanya Disleksia pada anak yang diyakini cerdas, namun menunjukan kesulitan dalam mengekspresikan ide dan kemauannya dengan stuktur bahasa, serta artikulasi yang tidak tepat.

Kesulitan berbahasa tulisan, kata dia biasanya mulai nampak jelas saat anak mulai masuk usia pra-akademis dan akademis. Anak ini nampak akan sangat berjuang membaca, mengeja, dan menulis.

Pada sebagian kasus, anak tersebut mampu membaca dan menulis, namun kesulitan memaknai berbagai kosakata, terutama kosa kata yang abstrak.

Selain itu penyandang Disleksia juga sulit membuat sebuah perencanaan, pengorganisasian, menyusun sesuatu hingga kesulitan mengingat hal-hal penting, yang tentu memperngaruhi performa individu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi penyandang Disleksia, membaca dan menulis menjadi sesuatu yang melelahkan pikirannya. Mereka pun lebih lama menyelesaikan tugas ini. Selain itu, mereka juga memiliki kesulitan dalam memahami bahasa sosial, seperti gestur tubuh lawan bicara dengan situasi yang terjadi. Lebih dikenal juga dengan mispersepsi, sehingga penyandang Disleksia pun akan kesulitan bergaul dengan anak lainnya.

Jika Anda menemukan gejala seperti di atas, maka segera konsultasikan buah hati Anda dengan dokter spesialis yang memahami kendala tersebut.

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA ARTIKEL DI BAWAH INI