KATEGORI ARTIKEL
PENCARIAN ARTIKEL
CARI
Senin 22 Juli 2019 15:57:36
by MelindaCare, via Artikel Anak Anda

“Stunting itu pasti tubuh pendek, tapi tubuh pendek belum tentu stunting”, Moms dan Dads mungkin sering mendengar kata-kata tersebut. Memang tidak semua orang akrab dengan istilah stunting. Padahal, menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO, Indonesia ada di urutan ke-lima jumlah anak dengan kondisi stunting. Stunting adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya. Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia 2 tahun.

Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa dikarenakan anak stunted bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya saja. Dampak jangka pendek stunting adalah terganggunya perkembangan otak yang akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, terganggunya produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif serta gangguan metabolisme tubuh. Sementara dampak jangka panjang stunting yang tidak ditangani secara baik sejak dini berpotensi menurunkan kemampuan kognitif otak, melemahnya kekebalan tubuh sehingga gampang sakit, serta risiko tinggi munculnya penyakit metabolik seperti kegemukan, penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah.

Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah. Di samping itu, Moms dan Dads juga harus waspada bila terdapat beberapa gejala stunting pada anak seperti berikut ini:

1. Kelelahan tanpa alasan yang jelas

Pada dasarnya, setiap anak yang didiagnosis mengalami stunting memiliki gejala yang berbeda-beda. Namun, kelelahan tanpa alasan yang jelas menjadi salah satu yang sering muncul dan terlihat dengan mudah.

Hormon tiroksin memegang peranan penting dalam pertumbuhan setiap manusia, terlebih pada anak atau bayi, hormon yang satu ini sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan otak. Akan tetapi jika hormon ini gagal berkembang di dalam tubuh, maka beberapa gejala akan muncul. Beberapa diantaranya adalah kelelahan tanpa alasan yang jelas, kulit kering dan juga masalah terhadap tingkat kehangatan tubuh.

2. Mudah tersinggung atau marah

Stunting tidak hanya membuat hormon tiroksin menurun, namun juga mengganggu hormon-hormon lainnya yang berdampak terhadap perilaku atau emosi. Anak yang mengidap stunting akan memiliki tingkat emosi yang tidak stabil.

Dalam kasus ini, mudah marah dan tersinggung menjadi salah satu pelampiasan emosi yang seringkali diperlihatkan. Selain itu, jika masalah yang satu ini sudah terlihat, maka kemungkinan besar anak atau bayi yang memilikinya akan menjadi pribadi yang nakal dan susah diatur lantaran tingkat kestabilan emosinya yang tidak dapat terjaga dengan baik. 

3. Kurangnya respon sosial yang memadai

Orang tua selalu diarahkan untuk bisa memberikan arahan atau pembelajaran terhadap anak-anak mereka sejak dini. Mulai dari bagaimana cara melakukan sejumlah hal kecil seperti menaruh benda hingga berbicara sekata dua kata sebagai bentuk dari bersosialisasi. 

Nah, jika Moms dan Dads mendapati si kecil mengalami respon sosial yang tergolong kurang, hal itu harus diwaspadai dan segera ditangani. Kurangnya respon sosial yang memadai di usia 2-3 tahun, pada faktanya merupakan satu dari sekian banyaknya gejala stunting. Jika sudah seperti ini, orang tua sangat disarankan untuk melakukan pendekatan persuasif.

4. Tubuh gagal berkembang pada usia di bawah dua tahun

Pertumbuhan yang mulai terhambat atau tidak bisa menjadi lebih tinggi, terutama di usia di bawah dua tahun, merupakan gejala awal sekaligus makna dari stunting itu sendiri. Gejala yang satu ini butuh penanganan yang cepat dan tepat. Jika tidak, maka gejala tubuh gagal berkembang dengan baik ini, akan tumbuh menjadi stunting yang sangat merugikan dan itu semua tidak dapat diatasi lagi kedepannya.

Untuk mengetahui apakah anak mengalami gejala tubuh gagal berkembang, bisa dilihat melalui beberapa tanda berikut. Seperti berat badan yang sulit untuk naik, mudah terkena infeksi atau penyakit dan telat mengalami menstruasi pertama (khusus anak perempuan).

5. Wajah tampak lebih muda di usianya

Sebagian besar indikasi atau gejala stunting muncul dengan fakta bahwa segala pertumbuhan umum pada anak menjadi terhambat atau gagal berkembang. Tak hanya tinggi badan dan juga berat badan, kondisi kulit atau wajah juga ikut terdampak. Seorang anak yang didiagnosis memiliki stunting, akan memiliki wajah yang terlihat lebih muda di usianya.

Berbeda dengan gagal berkembangnya tinggi badan yang menjadi gejala awal, wajah terlihat lebih muda merupakan gejala akhir dari stunting. Gejala yang satu ini ibarat pisau bermata dua, sebab di satu sisi sangat mudah dikenali atau diperhatikan, namun di sisi lain, lumayan sulit untuk ditangani atau dicegah lantaran waktu kemunculannya yang cenderung belakangan.

Nah, jika si kecil mengalami gejala-gejala tersebut, Moms dan Dads dapat mengunjungi RS Melinda 2 untuk berkonsultasi. Moms dan Dads dapat menemui Faisal, dr., Sp.A., M.Kes, dokter anak spesialis endokrin yang siap membantu mengenai perkembangan buah hati tercinta.

Komentar Artikel Waspada Stunting
Leave A Reply
name
email address
website
message
captcha Ganti Kode Captcha  
   
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA ARTIKEL DI BAWAH INI