KATEGORI ARTIKEL
PENCARIAN ARTIKEL
CARI
Rabu 10 Juli 2019 08:39:07
by MelindaCare, via Artikel Penyakit

Betah beraktivitas di dalam rumah memang sebuah pilihan. Namun enggan keluar rumah terus-menerus bisa jadi gejala gangguan jiwa. Dengan catatan, jika bakat ke arah sana sudah ada.

Bibit yang sudah ada

Kecenderungan untuk berlama-lama di rumah bisa jadi salah satu tanda gejala orang yang memiliki gangguan jiwa. Namun, perlu ditelisik mana yang muncul lebih dahulu, antara gangguan jiwa dengan keinginan untuk tidak keluar rumah. Orang yang pada dasarnya sudah memiliki gangguan jiwa cenderung tidak ingin keluar rumah. Begitu pun dengan orang yang memiliki fobia sosial.

Contoh, orang dengan gangguan depresi dan gangguan kecemasan cenderung malas keluar rumah. Pikiran yang sedang gelisah tidak menentu dan mood yang tidak baik membuat mereka tak ingin menghadapi dunia di luar rumahnya. Sementara itu ada pula jenis orang yang semula hanya tidak percaya diri, atau terkena adiksi dengan internet atau games, sehingga malas keluar rumah. Kondisi ini disebut masalah mental.

Sulit puas dan percaya diri

Obsesi mengejar kesempurnaan juga menjadi salah satu gejala orang dengan gangguan kecemasan. Pada dasarnya cemas muncul dari memikirkan sesuatu dengan konsekuensi buruk. Rasa cemas tentu manusiawi. Tetapi, kita juga butuh percaya bahwa diri kita mampu menghindari konsekuensi buruk yang terpikir di kepala. Di samping itu, kita perlu belajar puas dan menghargai proses yang tengah dilakukan.

Banyak sekali orang hebat yang merasa belum puas. Orang yang terobsesi mendapat ranking 1, tidak akan puas dapat ranking 2 atau 3. Orang dengan konsep pemikiran seperti ini cenderung akan banyak menyalahkan diri sendiri dan membuatnya rentan terkena depresi. Di samping itu, gangguan jiwa ini juga memengaruhi mood jadi berubah-ubah dalam waktu singkat. Mudah marah, impulsif, dan mudah sedih, adalah salah satu gejalanya.

Fungsi yang terganggu

Sebetulnya tidak salah jika seseorang tidak ingin keluar rumah, asalkan tiga fungsi pada dirinya tidak terganggu. Fungsi-fungsi diri ini menjadi indikasi kualitas hidup dan kualitas kesehatan jiwa kita.

Fungsi pertama yakni fungsi pekerjaan. Jika kita dapat menjalani dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik, pengerjaan di kantor atau di rumah tidak menjadi masalah. Contoh, pekerja freelance atau seniman yang bekerja dan berkarya dari rumah. Selama fungsi pekerjaannya tidak terganggu, berlama-lama di rumah tidak harus ditakutkan. Beda halnya dengan orang yang hanya bermain ponsel, makan, tidur dan mengesampingkan tugas yang seharusnya diselesaikan.

Fungsi kedua yakni fungsi sosial. Fungsi sosial yang berjalan baik pada orang yang suka berlama-lama di rumah ditandai dengan tidak merasa bermasalah untuk berinteraksi dengan orang lain. Atau, tidak ada masalah untuk keluar rumah jika perlu.

Fungsi ketiga yakni fungsi perawatan diri. Jika masih rajin mandi, menyisir rambut dan melakukan perawatan diri lainnya, kecenderungan untuk tidak keluar rumah tak menjadi tanda gejala gangguan jiwa.

Enggan keluar rumah menjadi tanda gejala gangguan jiwa dan masalah kejiwaan saat ketiga fungsi keseharian ini terganggu, contohnya pada orang dengan gangguan depresi.

Saat depresi, kadar serotonin di otak menurun. Padahal, serotonin merupakan neurotransmitter atau zat kimia di otak yang membuat kita semangat dan bahagia. Menurunnya serotonin membuat orang dengan gangguan depresi tidak bersemangat.

Keinginan beraktivitas orang dengan gangguan depresi pun jadi turun, seperti baterai yang tidak diisi daya. Agar serotonin kembali naik, kita harus menjalankan pola hidup sehat, makan, tidur dan olahraga teratur. Interaksi sosial pun perlu ditingkatkan, sambil saling mendukung dan menyemangati, sehingga muncul perasaan nyaman. Perasaan inilah yang menaikkan serotonin dalam otak. Jika jalan ini tak membuahkan hasil maksimal, orang dengan gangguan depresi bisa menjalankan terapi Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI).

Namun, perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk mengidentifikasi gangguan jiwa dan masalah kejiwaan yang tengah dihadapi masing-masing orang. Contoh, untuk perihal kecemasan sendiri, ada orang dengan kepribadian cemas, orang dengan gangguan kecemasan dan orang dengan ciri kepribadian cemas. Yang terakhir disebutkan, berarti belum bulat terkena gangguan, namun ada kecenderungan. Makin banyak intervensi untuk meredakannya, makin baik untuk kejiwaannya.

Untuk mengecek kecenderungan gangguan jiwa sendiri, cobalah untuk mulai dari upaya minimal dahulu. Baca dan browsing, lalu diskusikan gejalanya dengan teman. Dengan cara mengingat-ingat bagaimana kita ingin diperlakukan saat mengalami masalah, dapat jadi panduan saat mendiskusikan isu kejiwaan dengan teman. Contoh, kita tentu ingin diyakinkan dan ditenangkan saat sedang cemas. Perlakukan pula teman kita demikian saat ia menceritakan gejala gangguan kecemasannya.

Jika belum cukup, konsultasikan dengan psikiater. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh sesuai gangguan yang muncul, bisa dengan terapi atau dengan minum obat.

Narasumber: Psikiater dr. Shelly Iskandar, Sp.Akp., SpKJ, MSi, PhD

Bertugas di RS Hasan Sadikin dan RS Melinda 2 Bandung, saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Komentar Artikel Penyakit Jiwa yang Terungkap di Rumah
Leave A Reply
name
email address
website
message
captcha Ganti Kode Captcha  
   
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA ARTIKEL DI BAWAH INI