KATEGORI ARTIKEL
PENCARIAN ARTIKEL
CARI
Senin 26 Maret 2018 10:36:38
by MelindaCare, via Artikel Anak Anda

Anak yang tangguh adalah anak yang mampu mengelola diri dan perilakunya, sehingga berdaya dalam menghadapi berbagai kondisi dan situasi yang terjadi di sekitar termasuk kegagalan. Menumbuhkan ketangguhan anak dapat diupayakan oleh setiap orangtua dengan meningkatkan kualitas isi dan proses komunikasi.

Percakapan yang konstruktif akan menjadi jalan bagi orangtua untuk dapat menyampaikan berbagai pesan dan umpan balik dengan cara-cara yang mudah diterima oleh anak. Pesan yang baik, disampaikan dalam percakapan yang baik, akan dipersepsikan secara baik pula oleh anak. Hasilnya, anak akan lebih mudah menerima, sehingga muncul kesadaran dalam diri untuk berperilaku positif sebagaimana diharapkan kepadanya.

Berikut beberapa rekomendasi untuk dipertimbangkan dalam melakukan percakapan konstruktif oleh orangtua saat anak mengalami kegagalan berdasarkan kecerdasan apresiatif :

1.            Berusaha hadir dan mengerti pikiran, perasaan dan harapannya

Bagi kita yang tidak mengalami masalah secara langsung, kita tidak dapat merasakan dampaknya. Namun bagi anak yang mengalaminya, kegagalan dapat menurunkan rasa percaya diri, merasa tidak berdaya dan frustrasi. Hadirlah sebagai sosok yang bersedia mengerti apa yang ada dalam benak mereka, apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka harapkan. Hindari perkataan yang dapat dimaknakan mengabaikan, seperti “Ya sudahlah tidak apa-apa tidak menang, enggak usah sedih”, “ apa masalahnya sih kalau gagal”, “sudahlah nggak usah dipikirin, jangan cengeng ahh”.

2.            Fasilitasi anak untuk mengelola emosinya

Saat menghadapi kegagalan, berbagai perasaan akan muncul dalam diri kita. Sedih, kecewa, marah dan lain sebagainya. Kita sebagai orangtua yang secara emosi diharapkan lebih stabil dapat memberikan dukungan emosional pada anak. Berikan kesempatan pada anak menyatakan emosinya. Jika anak anda menangis, temani sepanjang prosesnya alih alih menghujani dengan berbagai nasihat. Jika anak membutuhkan waktu untuk menarik diri, berikan peluang dan tetap temani. Berikan anak rasa aman untuk  mengekspresikan gejolak emosi yang mereka rasakan.

3.            Apresiasi hal positif yang telah dilakukan oleh anak

Setiap orang pasti memiliki kekuatan. Ketika anak mengalami kegagalan, hargai dan akui usaha dan keberanian mereka. Ungkapkan secara obyektif dan tidak berlebihan hal positif yang telah dilakukan oleh anak anda. Hal ini merupakan proses kita memfasilitasi anak agar kembali ke realitas setelah mereka mengalami kegagalan.

4.            Fasilitasi proses membingkai ulang pengalamannya

Saat gagal, wajar apabila kita mengartikannya sebagai suatu pengalaman yang negatif. Begitu pula dengan anak-anak. Ajak anak berdialog untuk merubah isi, atau menata ulang sebuah pengalaman, atau interpretasi sehingga pengalaman tersebut mendapatkan arti yang berbeda dari sebelumnya. Arahkan melalui percakapan dan pertanyaan yang membuat anak memiliki pemikiran bahwa kegagalan adalah suatu hal yang biasa terjadi dan tidak perlu cemas secara berlebihan. Pemikiran yang dapat diangkat antara lain : kegagalan adalah guru terbaik, kegagalan memberikan kesempatan baru, kegagalan dapat menguatkan kita, kegagalan membuat keberhasilan semakin bermakna, menang bukanlah segalanya dan lain sebagainya.

5.            Fasilitasi anak untuk memanfaatkan pengalaman ini di masa depan

Ketika anak sudah memiliki pandangan yang lebih positif, ajak anak untuk mengolah keinginannya, kemampuannya dan langkah-langkah yang dapat ia lakukan. Orangtua dapat memfasilitasi anak untuk :

-              mendefinisikan tantangan atau target baru yang spesifik dan realistis

-              menyusun langkah-langkah untuk menghadapi tantangan atau meraih target

-              menentukan batas waktu

-              mengidentifikasi hambatan dan godaan yang mungkin muncul dalam upaya mencapai target serta solusi untuk menghadapinya

Jadi, ketika anak mengalami kegagalan, sebaiknya kita tak menampilkan kecemasan yang berlebihan apalagi menghakiminya. Berikan kesempatan kepada anak untuk belajar dengan mengalaminya, dan mengembangkan cara positif untuk menyikapi kegagalan. Dengan ini, kita telah memberikan bekal penting kepada anak untuk menghadapi dunianya dan membangun masa depannya.

 

Sitha K. Suryaningrum, Psikolog

Melinda Psychology Development Center

RSU Melinda 2

Komentar Artikel Anak Mengalami Kegagalan? Lakukan Hal Ini Yuk!
Leave A Reply
name
email address
website
message
captcha Ganti Kode Captcha  
   
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA ARTIKEL DI BAWAH INI