KATEGORI ARTIKEL
PENCARIAN ARTIKEL
CARI
Rabu 28 Maret 2018 11:14:18
by MelindaCare, via Artikel Penyakit

Diare pada anak di Indonesia ternyata menjadi penyebab kematian tertinggi. Hal ini berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2014. Sedangkan ditempat kedua, diduduki pneumonia.

Diare sering dianggap sebagai penyakit yang umum menyerang anak, sehingga sebagian besar ibu menganggap remeh penyakit ini. Padahal diare merupakan penyebab kematian dan kesakitan tertinggi pada balita. Enam juta anak di dunia (terutama di negara sedang berkembang) meninggal tiap tahunnya karena diare.

Gejala dan Penyebab Diare

Diare cair akut adalah buang air besar lembek atau cair dengan frekuensi lebih dari tiga kali dalam 24 jam dan berlangsung kurang dari 14 hari. Bayi usia sampai 2 bulan yang mendapat ASI (Air Susu Ibu) eksklusif mempunyai frekuensi buang air besar mencapai 8 - 10 kali sehari dengan tinja yang lunak, sering berbiji-biji dan berbau asam. Hal tersebut tidak tergolong diare, selama berat badan bayi meningkat secara normal.

Penyakit ini dapat disebabkan oleh virus, bakteri, parasit atau penyebab lainnya seperti alergi susu sapi, keracunan makanan dan lain-lain. Virus (rotavirus) merupakan penyebab 70 - 80 %  diare di seluruh dunia, sedangkan di Indonesia tercatat 55 % kasus diare pada balita disebabkan oleh rotavirus. Cara penularan penyakit ini adalah melalui konsumsi makanan atau minuman yang tercemar virus, bakteri atau parasit melalui perantaraan lalat, jari tangan yang kotor dan lain sebagainya.

ASI yang tidak diberikan secara penuh selama 4 - 6 bulan awal masa kehidupan menyebabkan bayi tidak mendapatkan berbagai manfaat ASI secara optimal, salah satunya adalah imunoglobulin yang berperan dalam daya tahan tubuh terhadap berbagai infeksi. ASI digantikan dengan pemberian susu formula melalui botol susu yang sterilitasnya tidak terjamin dengan sumber air minum yang tercemar.  Kondisi ini ditambah dengan rendahnya sanitasi lingkungan dan higienitas pribadi, merupakan faktor-faktor yang meningkatkan risiko terjadinya diare. Selain hal-hal tersebut, beberapa faktor pada penderita seperti gizi buruk dan penyakit campak dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap diare.

Gejala klinis muncul dalam 1 - 3 hari setelah penderita terinfeksi virus, bakteri atau parasit penyebab diare. Selain diare, anak  menjadi cengeng, gelisah dan suhu badan mungkin meningkat. Muntah dapat terjadi sebelum diare. Kehilangan cairan dan elektrolit dapat menyebabkan dehidrasi, berat badan turun, mata cekung, tidak ada air mata, mulut dan bibir tampak kering. Dehidrasi yang berat dapat menimbulkan sesak, kejang dan penurunan kesadaran. Iritasi anus dan daerah sekitarnya oleh tinja yang bersifat asam kadang menyebabkan kemerahan dan lecet pada daerah tersebut.

Anak dengan diare harus ditangani dengan cepat dan tepat untuk menghindari terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan. Penyebab utama kematian pada diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan melalui tinja yang tidak diganti secara adekuat. Derajat dehidrasi (dehidrasi berat, dehidrasi ringan - sedang dan tanpa dehidrasi) dinilai berdasarkan beberapa kondisi klinis seperti kesadaran penderita, bentuk mata, derajat haus dan cubitan pada kulit. Kondisi lemah bahkan tidak sadar, mata cekung, bila menangis tidak disertai air mata, minum dengan lemah sampai tidak mampu minum disertai cubitan pada kulit yang kembali sangat lambat adalah tanda dehidrasi berat.

Sedangkan dehidrasi ringan - sedang ditandai dengan anak yang gelisah, mata cekung tapi bila menangis masih disertai air mata, minum seperti sangat kehausan disertai cubitan pada kulit yang kembali  lambat. Kehilangan elektrolit bersamaan dengan cairan melalui tinja menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit yang bisa mengakibatkan kejang hingga penurunan kesadaran.

Gangguan nutrisi yang terjadi saat diare disebabkan oleh kerusakan epitel usus sehingga proses penyerapan sari makanan terganggu. Hal ini diperparah dengan gangguan asupan makanan sebagai akibat berkurangnya nafsu makan dan pemberian susu formula yang diencerkan untuk waktu yang lama, bahkan tidak jarang anak dipuasakan dengan alasan agar muntah atau diare tidak bertambah hebat.

Ada pepatah berbunyi : “ Mencegah lebih baik daripada mengobati ”, demikian pula pencegahan merupakan komponen yang sangat penting dalam penanganan diare pada anak. Komunikasi yang efektif dengan orang tua / pengasuh anak dalam rangka pemberian informasi dan edukasi mengenai diare terbukti ampuh mengurangi angka kejadian diare pada anak. Pemberian ASI secara penuh selama 6 bulan awal masa kehidupan sangatlah penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai infeksi.

Susu formula hanya diberikan sebagai tambahan bila produksi ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi. Dalam hal ini perlu diperhatikan sterilitas botol susu dan kebersihan sumber air yang dipergunakan untuk membuat susu formula. Tiap tahapan atau proses persiapan, pembuatan, penyajian dan penyimpanan makanan bayi perlu dipastikan kebersihannya. Selain dari pada itu, sanitasi lingkungan ( seperti : buang air besar di jamban) dan higienitas pribadi (seperti : kebiasaan cuci tangan dengan air dan sabun) harus makin ditingkatkan.

Makanan bergizi dan seimbang untuk menjaga status gizi anak serta imunisasi campak dapat mengurangi kerentanan anak terhadap diare. Saat ini telah tersedia vaksin khusus terhadap rotavirus (penyebab paling sering diare pada anak). Vaksinasi rotavirus memang tidak 100 % melindungi anak dari diare tetapi terbukti mengurangi lama dan keparahan diare pada anak.

Semoga informasi seputar diare pada anak ini bisa menambah wawasan Anda.

oleh : dr. Harsono Budiprananto, Sp.A

(Dokter Spesialis Anak RS Melinda 2)

 

 

Komentar Artikel Diare pada Anak, Gejala dan Penyebabnya
Leave A Reply
name
email address
website
message
captcha Ganti Kode Captcha  
   
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA ARTIKEL DI BAWAH INI