KATEGORI ARTIKEL
PENCARIAN ARTIKEL
CARI
Kamis 07 Desember 2017 14:08:24
by MelindaCare, via Artikel Anak Anda

Apa itu difteri? Penyakit ini sekarang sedang popular di Indonesia, padahal difteri ini awalnya dianggap hampir punah. Namun sekarang ini difteri sedang mewabah dan bahkan memakan satu korban.

Difteri merupakan infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan bahkan kadang menyerang kulit. Penyakit ini sangat menular, bisa melalui bersin, batuk, barang-barang yang sudah terkontaminasi bakteri, hingga bersentuhan langsung dengan luka penderita difteri. Bisa dikatakan difteri sebagai infkesi serius dan berpotensi mengancam jiwa.

Menurut data WHO (World Health Organization), sejak tahun 2011 di Indonesia kasus difteri masuk ke dalam kejadian luar biasa (KLB) karena tercatat 3.353 kasus. Bahkan sampai dengan tahun 2016, Indonesia menempati posisi ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak.

Dari angka 3.353 kasus penderita difteri, hampir 90% orang yang terinfeksi tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap. Padahal imunisasi bisa mencegah terkena penyakit ini. Dan imunisasi ini (DPT) sudah masuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia.

Penyebab Difteri

Difteri disebabkan bakteri corynebacterium diphtheriae dan bisa menyebar dengan mudah. Apalagi jika orang tidak mendapatkan vaksin difteri maka akan cepat terkena penyakit ini. Difteri sendiri bisa menyerang anak-anak hingga usia lanjut.

Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan sampai akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel mati ini nantinya akan membentuk membran berwarna abu-abu di tenggorokan. Racun yang dihasilkan dari bakteri ini pun berpotensi menyebar dalam aliran darah hingga merusak jantung, ginjal, sampai sistem saraf.

Gejala Difteri

Terkadang, penyakit ini tidak menunjukkan gejala apapun. Dan ketika tidak menjalani pengobatan yang tepat maka bisa menularkan penyakit ini pada orang di sekitarnya, khususnya yang belum mendapatkan imunisasi.

Gejala difteri ini umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh hingga munculnya gejala dua hingga lima hari. Adapun gejala-gejala difteri yang perlu Anda waspadai:

  • Adanya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Demam menggigil
  • Sakit tenggorokan dan suara sesak
  • Sulit bernapas atau napasnya sangat cepat
  • Kelenjar limfe di leher bengkak
  • Lemas dan lelah
  • Pilek dan awalnya cair namun lama-kelamaan menjadi kental sampai tercampur darah

Difteri juga kadang bisa menyerang kulit dan menyebabkan luka seperti borok. Luka ini akan sembuh dalam beberapa bulan namun meninggalkan bekas.

Diagnosis dan Pengobatan Difteri

Dokter akan memeriksa pasien dan menanyakan beberapa hal seputar gejala yang dialami. Kemudian dokter akan mengambil sampel lendir di tenggorokan, hidung, atau luka di kulit untuk selanjutnya dicek di laboratorium.

Jika seseorang tertular difteri maka dokter akan menganjurkan untuk menjalani perawatan di ruang isolasi rumah sakit. Mengingat penyakit ini sangat menular. Kemudian dokter akan memberikan antibotik dan antitoksin.

Bagaimana jika tidak cepat ditangani? Maka bisa menyebabkan komplikasi seperti berikut:

  • Memicu reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya menurun drastis dan bisa menyebabkan gagal napas.
  • Keursakan jantung
  • Difteri hipertoksis yang akan memicu pendaraan parah serta gagal ginjal

Jika Anda menemukan gejala penyakit difteri maka harus langsung memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan sedari dini. Begitupun dengan orang yang berada di dekat penderita. Disarankan untuk memeriksakan ke dokter karena penyakit sangat mudah menular.

Apakah Difteri Bisa Dicegah?

Pencegahan difteri bisa dilakukan dengan imunisasi DPT (Difteri, Tetanus, dan Pertusis atau Batuk Rejan). Vaksin ini diberikan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya bisa diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) di usia 10 tahun dan 18 tahun.

Bagaimana jika anak belum mendapatkan vaksin DPT? Maka Anda mengejarnya dan berkonsultasi langsung dengan dokter. Semoga informasi seputar apa itu difteri bisa menambah wawasan Anda dan melindungi orang yang Anda sayangi dari wabah ini. 

Komentar Artikel Apa Itu Difteri?
Leave A Reply
name
email address
website
message
captcha Ganti Kode Captcha  
   
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA ARTIKEL DI BAWAH INI