KATEGORI ARTIKEL
PENCARIAN ARTIKEL
CARI
Minggu 30 Januari 2016 12:05:31
by MelindaCare, via Artikel Urology

Batu saluran kencing di Indonesia merupakan penyakit saluran kencing yang paling sering di tangani di bidang urologi di Indonesia. Batu saluran kencing yang terjadi merupakan panyakit yang terjadi akibat berbagai faktor di tambah lagi dengan kondisi negara kita yang berada pada daerah tropis.
Penanganan batu ginjal yang membutuhkan tindakan operasi saat ini, salah satunya adalah tindakan minimal invasif dengan mempergunakan teknik Percutaneous Nephrolithotomy(PCNL). Percutaneous berarti  “melewati kulit” dan nephrolitotomy berarti “mengambil batu dari ginjal”. PCNL merupakan salah satu alternatif pilihan terapi operasi minimal invasif untuk batu ginjal berukuran besar diatas 2 cm.
Gambaran klinis batu ginjal dapat bervariasi dari tidak ada gejala sampai nyeri yang hebat dan apabila tidak tertangani dapat mengakibatkan batu menjadi besar sehingga dapat berakhir dengan infeksi dan sumbatan drainase air kencing pada ginjal yang dapat mengakibatkan penurunan dan kegagalan fungsi ginjal.
Tindakan pencegahan untuk menyelamatkan penurunan dan kegagalan fungsi ginjal adalah dengan menghilangkan batu ginjal itu sendiri. Tindakan PCNL adalah salah satu alternatif minimal invasive dengan mempergunakan telescope khusus yang dimasukkan ke dalam ginjal melalui sayatan kecil (1 cm) di pinggang yang dinamakan nephroscope. Batu dengan ukuran kecil dapat secara mudah langsung diambil, sedangkan batu yang lebih besar harus dihancurkan dengan alat khusus melalui telescope untuk dapat diambil langsung dari ginjal. Selama proses operasi, telescope dihubungkan dengan kamera ke layar televisi, sehingga selama proses tindakan PCNL akan tervisualisasi dan termonitor secara langsung oleh seorang ahli urologi.
Tindakan operasi PCNL sendiri membutuhkan anastesi umum. Durasi  tindakan bervariasi antara 30 menit sampai 2 jam tergantung besarnya batu ginjal itu sendiri.  Paska tindakan PCNL, pada pasien akan terpasang selang drain dan kemungkinan selang ureter. Selang ini berguna untuk memastikan sisa bekuan darah dapat keluar dan membantu proses penyembuhan ginjal paska operasi. Perawatan paska tindakan rata-rata dibutuhkan 2-3 hari.Semua tindakan operasi memiliki risiko operasi. Dibandingkan dengan tehnik pembedahan terbuka konvensional yang membutuhkan sayatan besar untuk dapat mencapai ginjal dan mengeluarkan batu ginjal, teknik PCNL memiliki risiko yg jauh lebih kecil. Tindakan PCNL yang di lakukan oleh spesialis bedah urologi yang sudah terlatih dalam tehnik ini di tambah dengan perencanaan pre operasi yang baik, maka risiko tindakan PCNL termasuk risiko rendah untuk terjadinya infeksi, perdarahan yang masif yang membutuhkan transfusi darah(2%), embolisasi(1%), explorasi ginjal (0,5%) dan trauma organ sekitar ginjal seperti hati, lien, usus dan paru-paru.
Pengalaman paska operasi pada pasien-pasien yang telah mempergunakan tehnik ini menunjukkan tingkat nyeri paska operasi yang jauh lebih minimal dibandingkan dengan tehnik operasi pembedahan terbuka konvensional. Pasien pada umumnya dapat langsung melakukan mobilisasi berjalan 1-2 hari paska operasi.  Setelah pasien dapat kembali ke rumah, pasien dapat melakukan aktivitas ringan seperti biasa. Saat ini di Rumah Sakit Khusus Bedah Minimal invasive Melinda 2, peralatan PCNL sudah tersedia dan dapat dijadikan salah satu alternatif minimal invasif untuk penanganan batu ginjal di Jawa Barat.

Kuncoro Adi,dr., SpU(K)
Spesialis Bedah Urology
Trauma and Reconstructive and endourologist Minimal Invasive

Komentar Artikel Tindakan Minimal invasif Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) dalam Penanganan Batu Ginjal
Leave A Reply
name
email address
website
message
captcha Ganti Kode Captcha  
   
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA ARTIKEL DI BAWAH INI